CANDI TERSEMBUNYI DI MAGELANG

Paket Wisata – Magelang merupakan salah satu kabupaten di Jogja yang memiliki berbagai candi, candi tersembunyi yang dimaksud adalah Candi Selogriyo. Mengapa Candi Selogriyo dsebut sebagai candi tersembunyi?

 

Jika kalian memiliki pertanyaan diatas, pada artikel ini kita akan bahas alasannya beserta informasi terkait dengan Candi Selogriyo.

Candi Selogriyo berada di kaki Bukit Sukorini dan Bukit Giyanti.

Candi Bersabuk untuk menjaga candi selogriyo dari keruntuhan

Tepatnya di lereng rimur Gunung Sumbing yang terpencil dari pemukiman penduduk, tersembunyi di balik bukit. Candi ini menjadi indikasi sebagai tempat pemujaan para pendeta Hindu yang dahulu lebih memilih tinggal di tempat terpencil.

Melihat letaknya, candi ini berada di kaki bukit dan dekat dnegan sumber mata air juga sungai. Candi ini juga dianggap sebagai bukti perkembangan nilai-nilai yang ada di agama Hindu. Keberadaaannya yang berada di ketinggian ini menunjukkan bahwa dewa-dewa bersemayan di tempat yang tinggi. Alasan ini juga menunjukkan bahwa setiap pemugaran yang dilakukan tidak lalu mengubah keberadaan candi agar makna spiritualnya utuh.

Karena letaknya yang berada diantara 3 bukit, candi ini seolah-olah bersembunyi dibalik bukit.

Lokasi Candi Selogriyo

Secara administratif, Candi Selogriyo berada di Desa Candisari, Kecamatan Windusari, Kabupaten Magelang. Lokasi ini berjarak 12 km dari kota magelang. Candi Selogriyo berada di lereng timur kumpulan tiga bukit, yakni Bukit Condong, Giyanti, dan Malang, dengan ketinggian 740 mdpl.

Jam Buka dan HTM Candi Selogriyo

Candi Selogriyo buka menerima kunjungan pengunjung, mulai am 08.00 pagi hingga jam 16.00 sore. Untuk bisa menikmati keindahan karya para leluhur negeri dalam wujud bangunan bersejarah ini, pengunjung dikenakan tiket masuk sebesar Rp 5.000.

Hal Menarik Mengenai Candi Selogriyo

  1. Struktur Fisik Candi

Candi selogriyo dan beberapa peninggalan kuno di Sekitar candi

Candi dan Sekitarnya. Image via: gpswisataindonesia

Candi Selogriyo terletak di puncak sebuah bukit dengan ketinggian 740 mdpl pada area seluas kurang lebih 300 meter persegi. Candi ini menghadap ke arah timur. Di dalam candi ada sebuah bilik yang sudah kosong. Menurut perkiraan, dahulu di bilik tersebut terdapat lingga-yoni yang menjadi simbol dari dewa Siwa.

Di empat sisi dinding bangunan candi terdapat lima relung yang menjadi tempat arca-arca perwujudan dewa. Arca-arca tersebut adalah Durga Mahisasuramardini di dinding utara. Ganesha di dinding barat, Agastya di dinding selatan, serta Nandiswara dan Mahakala di dinding timur.

Jika dilihat dari ukurannya, candi Selagriyo ini relatif kecil. Denah bangunan candi berbentuk palang dengan ukuran 5,2 m x 5,2 m dengan tinggi sekitar 4,9 meter. Candi ini juga tidak memiliki candi pewara atau candi pendamping, tidak seperti umumnya candi-candi Besar Hindu lainnya yang umumnya memiliki tiga candi pewara.

Salah satu keistimewaan Selogriyo adalah kemuncaknya yang berbentuk buah keben. Kemuncak tersebut disebut amalaka.

  1. Penemuan Dan Rekonstruksi

kondisi candi selogriyo tahun 1930 saat belum dilaukan retorasi menyeluruh

Kondisi tahun 1930. Image via: gpswisataindonesia

Candi Selogriyo sendiri ditemukan pertama kali oleh Hartman pada 1835 pada masa penjajahan Belanda. Pertama kali ditemukan kondisi candi tidak utuh seperti sekarang melainkan berupa pecahan – pecahan bagian candi. Oleh karena kondisi tersebut kemudian Hartman membentuk sebuah tim yang bertugas menyusun ulang Candi Selogriyo.

Pada bulan Desember 1998, candi ini hancur karena bukit tempat bangunan berdiri longsor. Hal ini disebabkan letak candi yang berada di atas bukit dan dikelilingi oleh lereng-lereng bukit lain. Karena itu, candi ini dipindahkan posisinya supaya tidak longsor lagi.

Sebelum rekonstruksi ini didahului penelitian dari para ahli arkeologi, juga disetel sementara untuk dicek pada tahun 2000 melalui pembongkaran dari bawah. Sedangkan rekonstruksi di tempat asal candi mulai dilakukan 200.  Proses rekonstruksi ulang selesai pada 2005.

Peristiwa runtuhnya candi itu membawa arti penting bagi candi itu karena saat proses rekonstruksi dilakukan penggalian telah ditemukan bagian atas atau puncak candi

  1. Wisata Budaya

Penari  kuda lumping sering mengadakan pentas di pelataran candi selogriyo.

Penari  kuda lumping. Image via: @senimanjawi

Pada plataran candi ini sering diakakan mentas kebudayaan Jawa. Setiap Bulan Jawa, Suro atau ‘malam Jumat kliwon’ dan ‘malam Selasa kliwon’ dalam kalender Jawa, tempat itu didatangi orang untuk ‘nyuwukke’ kuda lumping.

Supaya pementasan kesenian tradisional itu bisa baik, yang ‘nyuwukke’ di candi ini ada dari Magelang, dan Temanggung. Menurut ketua Kelompok Sadar Wisata Candi, sebelum runtuh pengunjung candi itu selalu ramai. Setiap bulan bisa mencapai 400 orang terutama kalangan anak-anak sekolah.

Pada liburan panjang sekolah, kawasan itu juga digunakan untuk kegiatan perkemahan anak-anak sekolah baik dari Magelang maupun Yogyakarta. Sedangkan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke tempat itu, katanya, setiap bulan sekitar 10 orang.

  1. Wisata Alam

Sawah Selogriyo. Image via: topindonesiaholidays.com

Para wisatawan selain bisa menikmati candi bersejarah itu juga bisa menikmati keindahan panorama gunung-gunung, persawahan dan perkampungan penduduk setempat yang masih asli.

Berbeda dengan Borobudur, Mendut, Ngawen maupun Pawon, orang-orang asing yang berkunjung ke Candi Selogriyo selalu menyebut perjalanan ini “hiking”, bukan “visiting”. Selain tentang Candi Selogriyo-nya sendiri, beberapa pengunjung sepertinya lebih terkesan pada panorama di sepanjang perjalanan yang mereka lalui.

Bagaimana? Tertarik mengunjungi candi ini? Semoga bermanfaat . . .