Mengenal Tari Silakupang dari Pemalang

Arsitek Indo Kontraktor – Indonesia memiliki banyak sekali tarian, salah satunya yaitu tari Silakupang yang berasal dari daerah pesisir utara tepatnya di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Tari Silakupang merupakan gabungan dari tari Sintren, Lais, Kuntulan, dan Kuda Kepang.

Gambar penari kuntulan

Gambar penari kuda kepang

Gambar penari Sintren dan Lais

Masing masing kesenian tersebut memiliki keunikan tersendiri, terutama jika dilihat dari bentuk gerakannya. Selain di Pemalang, kesenian ini juga berkembang di daerah pesisir utara pulau Jawa atau Pantura. Sebagai upaya pelestarian budaya dengan membuat inovasi baru, kesenian tersebut dikemas menjadi sebuah bentuk sajian garapan tari yang lebih menarik dan berbeda dengan kesenian di daerah lain.

  • Sintren digambarkan dengan penari wanita yang menari dengan geraknya yang gemulai dan dinamis mengikuti irama yang dipadukan dengan Lais.
  • Lais yaitu gerakan dari penari laki-laki yang gerakannya menyerupai gerakan penari perempuan.
  • Sedangkan Kuntulan digambarkan dengan sekelompok penari muslim yang mengikuti gerakan menyerupai gerakan bela diri, tarian ini bernuansa agamis.
  • Jaran Kepang, yaitu sekelompok penari yang menggunakan jaran kepang atau kuda dari anyaman bambu.

Struktur pertunjukan Tari Silakupang dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama adegan Kuda Kepang, Kuntulan, Sintren dan  Lais kemudian dilanjutkan Tayuban. Tata rias wajah yang digunakan penari Silakupang menggunakan tata rias wajah panggung corrective. Tata rias busana tari Silakupang dibedakan antara penari Kuda Kepang, Kuntulan, Sintren dan Lais. Musik iringan menggunakan seperangkat alat gamelan yang terdiri dari bonang, kenong, saron, slenthem, kethukkempyang, kempul, kendhang gsabet, kendhang bem dan kendhang ketipung.

Tempat pementasan tari Silakupang disesuaikan dengan jumlah penarinya dan tidak terikat tempat dan waktu. Tari Silakupang memiliki fungsi sebagai sarana hiburan bagi masyarakat Pemalang, sebagai media hiburan, media pendidikan (edukatif), komunikatif, sebagai pembangkit dan pengikat rasa solidaritas antar masyarakat Pemalang, sebagai media komunikasi antar pelaku seni (penari, pemusik, koreografer) dengan penikamat seni (penonton dan pemerhati seni) serta merangsang produktivitas bagi para seniman agar tercipta tari-tari kreasi baru.